Showing posts with label thinking. Show all posts
Showing posts with label thinking. Show all posts

Wednesday, December 09, 2009

The Negative Externalities of Your Happiness


smile and laugh that are showed in your face if you feel something that you call as happiness (though you never know for sure, is it the real happiness that you need or just the emotion of gaining something), could be tears or even big angry of others..

when you feel, world is yours and everything's looked so beautiful because of feeling that you called as happiness that you've already defined (though you never know for sure, is it the one that you really looking for?), this time could be the hardest day of others, and black clouds only the things that they could see..

it never be a mistake if you just want to show the world that you are happy and want to enjoy those kind of lovable feelings after you chase them hardly, it never be a mistake, never..

all people in the world deserved to pursuit their own happiness in the way that they believe in, and enjoy it for gaining the maksimum utility of that feeling (though, we know for sure, nothing is endless and forever in this world, so in the long term we could face the diminishing utility of happiness because we also adapt with life day by day)

we live in complex world and live with complex people.
some people could feel the positive impacts of your happiness; giving you congratz, hugging you with love, and listening your happy story with big smile.
but, do you ever think that your happiness could gives the negative externalities for others? Your smile could be their tears, days that you called as your lovely days could be their bad days, and happiness that you defined even could they say as "suck feeling"..

in some cases, maybe it's not your mistakes if they got those negative impacts of your happiness, and they also have their own personal reason of getting that bad feeling.

just try to understand them and their feeling.. be wise and sympathy of them..
do something if it needed to make all problems clear and hope they also find their own happiness (so, the equality of happiness could be gained),,, and it's also okay for you to enjoy and maximize your utility of something that you called as HAPPINESS...

Monday, October 05, 2009

Anak Terlantar Dipelihara oleh Negara (?)

Menumpang kapal ferry adalah sebuah ritual yang akrab sekali bagi saya yang berkampung halaman di tanah sumatera, setidaknya 1 kali dalam setahun. Pelabuhan Merak-Bakauheni, kedua daerah ini adalah pusat penyebrangan dari pulau jawa ke pulau sumatera atau sebaliknya, selain pelabuhan tanjung priok tentunya.

Penduduk merak dan daerah bakauheni, sebagian besar bekerja sebagai pedagang di sekitar pelabuhan baik pedagang asongan keliling ataupun mereka yang memiliki toko di darat hingga yang berjualan di atas kapal, sisanya banyak yang bekerja sebagai supir angkutan travel, bis atau pegawai pelabuhan. Entah kenapa kebanyakan penduduk yang tinggal di kedua pelabuhan yang ramai ini adalah masyarakat yang berada di golongan ekonomi menengah-kebawah, dan condong kearah miskin kebanyakan. Saya pikir, untuk mereka yang tinggal di dekat pelabuhan yang ramai seperti itu setidaknya bisa memiliki penghasilan yang cukup memadai dari kegiatan perdagangan, usaha penginapan atau usaha transportasi darat yang menghubungkan wilayah pelabuhan dengan pusat-pusat kota.

Dengan kondisi keluarga yang miskin yang saya pikirkan pertama kali adalah nasib anak-anakyang hidup dari lingkungan dan keluarga miskin tersebut. Benar saja, adalah sebuah pemandangan akrab bagi saya, jika telah naik diatas kapal dan melongok kebawajh kapal sebelum kapal mulai berlayar, saya dapat melihat kurang lebih 8-10 anak kecil seumuran 7- 15 tahun berenang merapat di badan kapal. Sungguh bukan karena mereka hobby dan mahir berenang lantas memamerkan keahlian berenangnya kepada penumpang kapal. ini lebih kepada desakan kebutuhan perut dan mungkin cita-cita untuk sekolah tinggi. Ya, anak-anak kecil itu ribut berteriak pada penumpang kapal untuk melemparkan uang koin ataupun kertas ke air, sehingga mereka bisa berenang mengejar uang tersebut dan mengumpulkannya.

Miris memang, melihat anak kecil yang seharusnya sedang asik duduk di bangku kelas sambil belajar bagaimana mengucapkan "nama saya budi" dalam bahasa inggris ternyata malah bermain-main dengan maut di pinggir pelabuhan hanya demi mengejar kepingan uang logam senilai Rp 200 atau Rp 500.
"Fakir miskin dan Anak Terlantar dipelihara oleh Negara". omong kosong! jika melihat banyak kenyataan di lapangan, anak-anaka pelabuhan merak-bakauheni hanya potret kecil dari nasib anak-anak keluarga miskin atau terlantar di indonesia. Ibukota Jakarta saja adalah kumpulan pengemis-pengemis cilik yang tinggal di kolong jembatan atau emperan-emperan toko yang keluar masuk bis kota untuk makan saja, belakangan dulu kalo bicara soal pendidikan.

Kota lainnya? sama saja. Bandung, si "Paris Van Java", di seputar factory outlet yang berjejer di daerah Jl.Riau Bandung,saya melihat contoh nyata dari apa yang diajarkan di kelas kemiskinan "economic gap" yang bisa ditunjukan melalui gini koefisien. Di satu sisi, wanita-wanita kaya dengan manisnya masuk dari satu FO ke FO lainnya dengan tentengan tas belanjaan yang saya yakin pasti berat, di lain sisi, anak-anak seumuran sekolah dasar menawarkan jualan mereka, batu-batu ulekan sambal yang mereka bawa di bahu mereka.

Kemudian kemanakah peran negara yang katanya akan "memelihara" mereka?saya terlalu malas untuk mencari tahu berapa bagian dari anggaran belanja pemerintah yang digunakan untuk konteks "memelihara anak-anak terlantar dan miskin". Namun setidaknya porsi pengeluaran untuk pendidikan bisa dimaksimalkan dan pengeluaran anggaran negara untuk hal-hal non esensial seperti pelantikan anggota DPR bisa dialihkan untuk ha-hal fundamental seperti memelihara anak-anak miskin tersebut,aset negara di masa depan.

Saturday, September 26, 2009

saturday night, 11:56

11:56, waktu dimana saya memulai menulis ini. saya berpikir tentang banyak hal malam ini:

tentang cinta pertama saya yang tak pernah tersampaikan, karena saya dan teman saya sedang membahas rencana pernikahan lelaki pujaan

tentang nasib 2 semester terakhir kuliah saya, karena saya teringat tugas seminar industri yang belum saya baca dan pembimbing skripsi yang sulit saya jangkau.

tentang rencana hidup saya setelah lulus, karena sejak pagi mama terus bertanya "bisa gak sih kamu dapet s2 nya diluar negeri, biar keren gitu lo pi"

tentang betapa singkatnya hidup dan Allah lah yang punya kuasa mengatur umur seseorang, karena saya teringat seorang teman, James Victor Manalo yang meninggal muda karena kanker tulang

tentang bagimana dan dengan pria seperti apa saya mengakhiri masa lajang nantinya, karena saya baru saja membantu kakak sepupu merapikan souvenir pernikahannya.

tentang kedua orang tua dan kedua adik saya, karena saya ingat bahwa sesungguhnya saya lah yang menjadi tumpuan orangtua untuk menjaga adik2 dan seharusnya membuka jalan bagi kedua adik saya nantinya.

saya hanya berpikir dan memang sambil memikirkan jawaban beberapa pertnyaan tentang hidup saya.saya berhenti pada pemikiran tentang siapa saya dalam arti yang jauhh lebih kompleks dari sekedar nama dan TTL, dan tentang tujuan akhir dari setiap usaha keras yang saya lakukan meskipun mungkin semua usaha saya masih jauh dari maksimal.



saya mungkin bukan siapa-siapa tapi selalu berusaha menjadi nama yang mungkin disebut dengan rasa bangga oleh orangtua saya dan oleh orang-orang yang mengenal saya, bukan dengan atas nama kesombongan tapi karena hasil kerja keras dan usaha saya yang membuahkan hasil.

saya berasal dari lingkungan yang mungkin bukan apa-apa bagi sebagian besar orang, tapi saya selalu mencoba berlari dan mengejar banyak hal untuk membawa lingkungan saya kederajat yang lebih tinggi bukan atas nama tinggi hati nantinya tapi insya allah untuk membantu mengangkat derajat lingkungan lainnya.

saya ternyata tidak punya kemampuan istimewa, tapi saya menunda banyak jam tidur saya di malam hari untuk mengisi kepala, hati dan mengasah kembali mimpi saya untuk menjadi bagian kecil dari dunia namun berguna bukan atas nama ketenaran tapi saya hanya ingin punya kenangan dan amal yang tak terputus nantinya

dan saya tetap seorang wanita yang mungkin jauh dari sempurna karena saya memang tidak akan pernah sempurna, tapi saya selalu mencoba menjadi wanita terbaik demi janji Allah akan lelaki terbaik bagi imam keluarga saya dan menuntun saya di kehidupan dunia menuju akherat yang selamat nantinya..

Saturday, August 22, 2009

Posisi Indonesia dalam ASEAN Economic Community 2015 (VOE, edisi agustus)

ASEAN Economic Community (AEC) adalah salah satu dari 3 pilar konsep ASEAN Integration yang telah disetujui bersama oleh Kepala Negara dari 10 negara anggota ASEAN dalam pertemuan di Bali tahun 2003 yang dikukuhkan lewat Declaration of ASEAN Concord II atau yang dikenal dengan BALI Concord II. Konsep utama dari AEC adalah menciptakan ASEAN sebagai sebuah pasar tunggal dan kesatuan basis produksi dimana terjadi free flow atas barang, jasa, factor produksi, investasi dan modal serta penghapusan tarif bagi perdagangan antar negara ASEAN yang kemudian diharapkan dapat mengurangi kemiskinan dan kesenjangan ekonomi diantara negara-negara anggotanya melalui sejumlah kerjasama yang saling menguntungkan .

Melalui terwujudnya AEC, yang utama posisi tawar ASEAN di perekonomian global menjadi lebih kuat. Kemudian kesempaatan lainnya yang melihat dari tujuan AEC yang dideklarasikan melalui Bali Concord II yaitu terciptanya wilayah ekonomi ASEAN yang stabil, makmur, dan sangat kompetitif dimana terjadi aliran bebas atas barang, jasa, investasi dan modal, pembangunan ekonomi yang merata dan mengurangi kesenjangan sosial ekonomi di tahun 2020 .

Melalui free flow of investment, masalah ketidakseimbangan pendanaan di Negara-negara ASEAN diharapkan teratasi, dengan menguatnya posisi tawar ASEAN sebagai sebuah komunitas ekonomi yang terintegrasi diharapkan investasi asing langsung (FDI) akan tersalurkan ke ASEAN dimana semua anggotanya dapat merasakan manfaat dana tersebut tidak hanya sebagian negara saja jika masing-masing bergerak sendiri mengatasnamakan negara masing-masing. Dalam hal ini yang diuntungkan adalah Negara-negara berkembang dan tentunya Negara miskin di dalam ASEAN karena selama ini ASEAN dilihat dari sisi ekonomi terbagi seolah dalam beberapa kelompok 1)Negara yang mengalami “Significantly transformed economies” yang bisa disejajarkan dengan Negara maju yaitu Singapura, 2)Negara dengan “Emerging Economies” yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan VietNam, dan 3) Negara yang termasuk ke dalam “poorest nations” di dunia seperti Laos, Myanmar dan Kamboja .

Dalam hal merebut FDI yang masuk ke ASEAN sebagai sebuah komunitas ekonomi terintegrasi nantinya, Indonesia harus mau dan mampu membenahi sistem hukum dan peraturan terkait penanaman modal asing dan factor-faktor lain yang menjadi pertimbangan bagi investor. Faktor keamanan nasional dan jaminan akan iklim usaha dan perlindungan bagi dana investor yang masuk. Permasalahan yang masih muncul dalam penanaman FDI ke sejumlah Negara ASEAN adalah karena terkendala faktor national law yang lebih banyak melindungi investor lokal. Indonesia menghadapi dilema tentang hal ini, dimana dalam negeri menuntut lebih diberinya kesempatan investor dalam negeri atas nama nasionalisme sedangkan kebutuhan akan FDI dan komitmen akan AEC juga perlu dijalankan. UU penanaman Modal Asing di Indonesia masih dianggap belum “mengundang” bagi investor asing sedangkan di dalam negeri UU ini dianggap telah merugikan pelaku usaha nasional dan mengabaikan peran pemerintah dalam melindungi asset bangsa.

Dengan memanfaatkan aliran bebas dalam barang, tenaga kerja, modal yang diiringi dengan teknologi, melalui konsep AEC ini idealnya akan terjadi transfer keahlian dan teknologi dari ‘brand leader” di ASEAN kepada perusahaan lokal di Negara-negara anggota yang masih tertinggal di bidang perekonomian untuk memperbaiki budaya usaha dan meningkatkan kapasitas serta kualitas produksi.

Tantangan dalam terwujudnya aliran bebas barang dan jasa dalam AEC adalah karena masih berlakunya tariff perdagangan antar Negara ASEAN meskipun 6 negara ASEAN termasuk Indonesia telah sepakat secara nyata mengurangi tariff perdagangan didalam ASEAN untuk sejumlah barang yang termasuk kedalam Inclusion List (IL) hingga menjadi maximum hanya 5%. Table berikut memuat daftar tariff perdagangan sejumlah Negara ASEAN untuk perdagangan intra-regional

Harapan dengan terwujudnya zero trade tariff di AEC adalah terbentuk pasar tunggal ASEAN yang potensial, hal ini akan sangat berguna seperti masa sekarang saat demand dari Amerika dan eropa sedang turun terhadap produk ekspor Negara Asia dan ASEAN seperti Indonesia. ASEAN memiliki keunggulan jika memang dapaat terbentuk sebuah single market yang kuat, karena ASEAN sebenarnya memiliki market fragmentation yang lebih luas daripada China .

Hal lain yang menjadi tantangan bagi aliran bebas barang adalah adanya ketidaksamaan kualitas barang produksi dan peraturan teknik di industry masing-masing Negara. Demi terwujudnya pemerataan kualitas produksi maka ASEAN coordinating Committee on Standards and Quality (ACCSQ) telah bekerja dalam memastikan bahwa Negara-negara di ASEAN mulai memperbaiki kualitas proses produksi dan hasil produksi agar setara dan dapat sama-sama bersaing dalam pasar global serta terjadi arus barang yang saling menguntungkan dalam pasar intra-regional ASEAN . Keuntungan bagi Indonesia adalah adanya standar kualitas di ASEAN membuat produsen local Indonesia menjadi terpacu untuk memperbaiki kualitas sehingga produknya lebih baik dan lebih berdaya saing keluar.

Tantangan bagi Indonesia dalam AEC diantaranya ketidaksiapan kebijakan ekonomi yang mendukung, undang-undang dan tenaga kerja serta pelaku dunia usaha tanah air yang belum siap secara kualitas dalam meraih kesempatan yang ada dan bersaing head-to-head bersaing dengan negara lain dengan kondisi perekonomian yang lebih kuat dibanding Indonesia.

Kekhawatiran yang ditakutkan dari AEC adalah nantinya Indonesia akan banyak diserang oleh tenaga kerja-tenaga kerja asing yang lebih berkualitas, modal asing yang berlebihan sumbangannya bagi perekonomian atau masuknya produk-produk asing yang lebih murah dengan kualitas lebih baik sedangkan kondisi di dalam negeri tenaga kerja kita masih banyak yang bekum terdidik dan terlatih, usaha local lemah dipermodalan dan kualitas pengelolaan usaha dan produk dalam negeri kalah bersaing, sehingga akibatnya kita tidak akan bisa mewujudkan mimpi menjadi “tuan di negeri sendiri”.

Permasalahan yang juga kemudian muncul dari AEC ini adalah kemungkinan adanya national interest yang lebih diutamakan dalam proses penyatuan ini, sehingga akan ada pendahuluan kepentingan masing-masing Negara dibandingkan kepentingan bersama yang disepakati demi kemajuan komunitas.

ASEAN Economic Community 2015 dimana Indonesia berkomitmen penuh untuk mewujudkannya bersama dengan sejumlah Negara anggota ASEAN lainnya telah menyediakan konsep yang member kesempatan bagi semua anggotanya dalam mengambil benefit termasuk bagi Indonesia, yang diperlukan adalah bagaimana Indonesia sebagai bagian dari komunitas ASEAN berusaha mempersiapkan kualitas diri untuk dapat mengambil kesempatan tersebut dan bersaing dengan Negara tetangga di ASEAN sehingga ketakutan akan “kalah bersaing” di negeri sendiri akibat terbentuknya AEC tidak terjadi.

references:
1. Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, Bank Indonesia.
2. Publikasi ASEAN Secretariat melalui www.asean-secretariat.org
3. Tullao, Tereso S. Modeling a Scenario of Asian Integration: Political, Economic and Cultural Approaches.Disampaikan dalam 2nd International Conference, De La Salle University – Manila. Januari 2009.
4. Mr.Ryan Patrick Evangelista “Private Sector’s Perspectives on ASEAN Integration” disampaikan dalam 2nd International Conference, De La Salle University-Manila 2009.
5. Cuyvers, Ludo; De Lombaerde, Philippe. “From AFTA towards an ASEAN Economic Community…and Beyond”.Centre for ASEAN Studies. Januari 2005. http://webh01.ua.ac.be/cas/PDF/CAS46.pdf

Sunday, July 12, 2009

percakapn ditengah tahun ajaran baru

percakapan 1 (sebuah desa di daerah jawa)
reporter : ibu bagaimana ceritanya anak anda mau masuk sekolah?
ibu-ibu : iya pak, anak saya mau masuk SD, uang masuknya 400rb saya bilang bisa dicicil gak?kata mereka gak bisa, kalo saya gak bisa lunasin mending diambil lagi aja berkas2 ijazah nya
anak si ibu : (melongo melihat kamera dan mungkin dalam hatinya berkata : makk..aku mau masuk SD, aku udah bisa baca dan ngitung 1-20 kok)

Percakapan 2 (lokasi :perumahan mampang indah dua blok T no2,Depok. di ruang tamu)
si ibu : lumayan sih pah, nemnya 32, 80. rata-rata 8. mama gak jadi pingsan pas nerima hasilnya. tapi ternyata temen2nya pada dapet nilai 9 semua padahal temen2nya ini yang anak bandel2, gurunya aja heran semua, pada dapet contekan kali ya.
si bapak : ya udahlah ma, coba dulu aja semua sma negeri di depok mana yang bisa nerima. kalo gak dapet ya kita ke swasta
si ibu : swasta mana pah? swasta disini gak ada yang bagus,udah gitu mahal banget lagi. keperluan yang pada kuliah aja lagi banyak2nya, belum lagi kita naek haji taun ini.
si bapak : ya udahlah tenang aja, urusan papa itu mah. *sok tenang
si anak : *dengan tampang gobloknya melongo aja sambil sesekali baca komik seolah-olah gak bersalah
si kakak : aduhh bego banget sih lo,nyari sekolah lo susah amat, negeri gak ada yang terima. mesti ke swasta yang bayarnya bisa nyampe 10 juta lebih. *kesel karena udah 3 hari muter2 nyari sekolah buat adeknya yang tidak terlalu pintar kalo tidak mau disebut tolol.

percakapan 3 (Tempat pemungutan suara di sebuah kompleks perumahan)
ibu 1 : anaknya diterima dimana bu?
ibu 2 : itu lo di sekolah swasta ****
ibu 1 : anak saya dapet sma 1 loh *tersenyum rada mau nyombong (FYI, SMA 1 Depok adalah sma unggulan di depok yang cuma nerima anak2 pinter macam gw dulu tapi sekarang sekolah negeri ini menjadi sekolah berstandar internasional untuk semua kelas)
ibu 2 : anak saya gak ada yang diterima negeri, masuk swasta deh. sekolah sekarang mahal ya, masuknya aja 10jt lebih bulanannya belum
ibu 1 : sekolah anak saya sekarang juga mahal bu, biar kata negeri juga. masuknya diatas 5juta, bulanannya 400rb-an. pusing mikirnya


percakapan 4 (disuatu tempat entah dimana yang pasti di Indonesia)

reporter : ibu gimana persiapannya mau masuk tahun ajaran baru sekolah?
si ibu : aduhh..butuh uang banyak. buat seragam, beli buku baru, uang pangkal masuk sekolah. semuanya pake duit..orang kecil kayak saya gini, makan aja kadang susah, mau nyiapin buat sekolah gini makin mumet.
reporter : memang kira2 berapa bu kebutuhan masuk sekolah baru ?
si ibu : sekolah di kampung gini aja udah hampir 500rban buat masuk sekolah. belum perlengkapannya. ampunn deh, kalo gak dapet uang si bapak mah, biarin nganggur aja dulu. yang penting anak mah udah lulus dulu aja SD.


Sekolah dan pendidikan sekarang menjadi kombinasi 2 hal penting : kecerdasan otak +kemampuan membayar.keduanya adalah komplementer bukan saling menggantikan, kecuali meletakkan kata "sangat" di depannya.
ketika anak anda pintar tapi anda tak punya cukup uang, jangan banyak bermimpi bisa sekolah dan mendapat pendidikan yang layak, dan ketika anda memiliki uang tapi anak anda tidak pintar juga jangan harap ada sekolah yang siap menampung kebodohan anak anda kecuali sekolah itu juga dihuni oleh anak2 berotak sama.
Kecuali jika, anak anda SANGAT pintar maka bersiaplah menerima tawaran beasiswa yang datang atau jika anda SANGAT kaya mungkin saja anda bisa menyisipkan sebagian harta anda dibalik tangan pihak sekolah bermutu namun matre untuk menitipkan anak anda bersekolah disana tanpa repot2 menjalani seleksi.

Biaya adalah variabel penentu dengan tingkat signifikansi yang sangat tinggi untuk menentukan tingkat dan mutu pendidikan secara umum (karena tidak dipungkiri banyak pula kasus2 khusus yang menyalahi kesimpulan ini). Sekolah Berstandar Internasional pun kini yang sedang menjamur di Indonesia bukan sekedar mutu pendidikannya saja yang bertandar internasional tapi juga menjadi " sekola berbiaya internasional"

Ketika pendidikan merupakan hak dari warga negara dimana negara seharusnya menyediakannya agar dapat diakses secara merata dan adil justru menjadi salah satu beban terbesar setiap rumah tangga yang memiliki anak..

Sunday, June 21, 2009

nobody syndrome mode:on

when people's expectation is too high on you, sometimes its not a thing which can help to push you in doing something better. it turns to be a big rock that hit your head and repeatedly tell you that "YOU ARE STILL NOBODY and NOTHING".

when you stand in one position or stuck in one stage that automatically labels you as "someone-who-must-and-exactly-can-do-anything". people's opinion about everything that is good about you, surely it can't make you smile as happy as before. When they call you as "hey, mrs somebody" its sound like "hey, mrs. you-think-that-you-are-somebodyt".

i think they are totally wrong if they think that i can-do-anything or know-everything.
hey ma,pa you have to know that your daughter is not as "WONDERFUL" as you think
hey guys, dont you ever think that my high GPA means something that similar with "happy is the smart one"
hey everybody outside..i am nobody and nothing, so dont you ever think that i have 100achievements in my life

life is too hard if you show your stupid and innocent face outside, so i just try to use my i-am-somebody face at day and work hard at night to fill my blank head for my next day. and one by one i always try to collect something that i can call as achievement but maybe for other its just "small and unvaluable thing".what a pity, but maybe thats my portion: collecting unvaluable things.

They are trying to always motivated you "try more, try more, try more,,, your limit is still high, just try to jump higher,don't you ever said that you cant do that".
who make a mistakes here? they who maybe dont know for sure how high my limit is and just can tell me to jump higher.or myself who create a limit that is too short and too much giving permission to myself for having some pleasure times.

you never can satisfy everybody's expectation on you. and if you make it as a list and check it one by one, it just help you become crazy. you think that you've already tried everything but why the list is not getting shorter, and their face still show you that "HEY, YOUR EFFORTS ARE NOT ENOUGH".

and when the nobody syndrome comes, all things become heavier than before..

Wednesday, April 29, 2009

mencoba merefleksikan diri..

Membaca 4 notes milik pak Ari Perdana dan comments dari temen2 beliau tentang gambaran perjuangan mahasiswa tahun 1998 era reformasi sambil sesekali bercermin akan diri saya sendiri dan mungkin teman2 di sekitar saya, 1 hal yang saya pikirkan "apa yang sudah saya lakukan ketika saya seumur mereka saat masa itu?". Cukup membuat merinding dan terkagum-kagum sendiri bagaimana senior-senior kala itu punya perjuangan hebat yang mereka upayakan dan mereka tau persis apa yang mereka perjuangkan hingga layak berkorban.

Mei 1998, saya hanya anak bocah berumur 10 tahun yang sangat kesal karena perayaan ulang tahunnya di bulan itu tidak bisa dirayakan di restoran tempat kami sekeluarga biasa makan. Kata papa saat itu " kita gak bisa keluar, lagi rusuh! ntar mobil kita dibakar". terus terang saya gak begitu mengerti kondisi apa yang terjadi saat itu, memang di Tv terlihat semuanya sangat ramai diluar sana, dan yang saya tahu sebuah toko swalayan kecil di dekat rumah saya yang biasa kami datangi sudah hangus terbakar saat itu.

Saya tidak bisa membandingkan apa yang saya dan para senior saya itu lakukan dimasa itu, kami berada pada dimensi umur yang berbeda. Yang saya pikirkan adalah apa yang saya sudah saya lakukan sekarang ketika saya seumuran mereka, berada pada tingkat pendidikan yang sama dan kuliah di kampus yang sama.

Saya berpikir, bahwa saya dan lingkaran teman-teman disekitar saya adalah contoh anak muda masa kini yang egois. Semuanya lebih baik saat ini, kami punya fasilitas hotspot yang membuat kami betah nongkrong di kampus sambil menikmati layanan facebook, handphone adalah barang yang lazim dimiliki bahkan lebih dari 1 Hp per orang, setiap anak sibuk dengan tentengan laptopnya atau bermain seperti autis dengan blackberry nya. Saya sendiri lebih senang sibuk dengan tugas-tugas kuliah demi kepentingan pribadi saya sebagai mahasiswa, bersenang-senang dengan kegiatan organisasi, ribut membicarakan siapa menggebet siapa di kantin setiap makan siang, atau sesekali memanfaatkan jatah absen untuk nonton atau karaokean. see, saya sadari, saya termasuk mahasiswa egois..

Tidak pernah tertulis dalam agenda kerja saya (agenda yang seolah-olah sibuk tapi begitu saya timbang-timbang ternyata saya bukanlah mahasiswa produktif)untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi kalangan yang lebih luas bukan untuk diri saya sendiri seperti yang selama ini saya lakukan.
Melakukan aksi seperti temen2 BEM UI lakukan ketika merasa tidak "klop"dengan kebijakan pemerintah? jelas saya tidak punya cukup nyali melakukan itu, dan saya lebih senang membaca progress dari masalah-masalah yang mereka ributkan itu dari Tv atau koran untuk kemudian diskusi singkat dengan teman2 disela-sela obrolan tentang pacar masing-masing sambil seperti mengejek mereka yang turun aksi " lahh ngapain teriak-teriak di jalan, kalo emang merasa tuntutannya jelas mending bikin kajian aja, bikin petisi atau rekomendasi sampaikan dengan cara yang intelek"(meskipun kami sendiri juga gak punya cukup otak dan keinginan untuk melakukan cara yang kedua ini).
kata papa,"pergerakan macam mei 1998 itu ada timingnya py..gak bisa dibuat2, jika saatnya meletus pasti meletus..dan senior2 kamu itu yang kebagian jatahnya dulu untuk berjuang".

Saya tidak iri, pada momentum yang didapatkan senior-senior saya dalam hal pergolakan mei 1998, saya iri, kenapa saya tidak punya naluri seperti mereka, untuk kritis melihat masalah, berani mencari solusi yang bermanfaat bagi kalangan luas bahkan negara, dan setidaknya ikhlas menanggalkan kepentingan pribadi dan keegoisan mereka untuk sesuatu hal yang justru berbahaya bagi mereka. Disamping mereka juga memiliki kualitas yang juga baik: beberapa nama yang saya tahu menempuh pendidikan hingga s3 di luar negeri dan kerja di tempat-tempat dambaan kami semua.

Yang saya lakukan mungkin cuma "embel-embel" dalam kehidupan:kuliah alhamdulillah untungnya saya tidak bodoh, bikin tugas, masih syukur bisa ngurus organisasi, jalan-jalan ngabisin duit orangtua,dan sibuk mengupload foto dan memberi komen facebook. saya ragu apakah saya dapat menjadi "sesuatu" atau "seseorang" dengan hanya menjalani aktifitas "embel-embel" ini.

Betapa saya merasa rugi, melewatkan tahun-tahun di bangku kuliah hanya dengan rutinitas "embel-embel"ini, dan lagi kualitas aktifitas "embel-embel" ini tidak bagus- bagus amat terjadi pada saya, yahh lumayan IP masih diatas 3, alhamdulilah diberi kepercayaan memimpin himpunan meskipun saya juga masih ragu apakah saya bisa membawanya jadi lebih baik, sibuk nongkrong disana-sini juga gak jadi gaul-gaul amat pacar aja gak dapet2(curlong sekalian), yahhh jika saya menrik kesimpulan:hidup saya kurang berkualitas, atau mungkin saya mahasiswa yang tidak berkualitas..entahlah, yang saya tau saya masih menyimpan banyak ketidakpuasan akan diri saya sendiri masih sedang dalam perjalanan panjang untuk berusaha memenuhi kepuasan itu, semoga saja waktu saya cukup panjang untuk itu semua..

Tuesday, April 14, 2009

Stupid Voter with Asymetric Informations

i gave my votes for the representatives for Indonesian parliament, on the right day (hahaha).
i did that at "TPS" near my house after i had "bidding time" with no sleep for 18 hours..

one think that came immediately on my mind when i ride my motorcycle to TPS was "should i do this? even, i don' t know which candidate whom i want to choose".
"maybe the opportunity cost of giving my vote on that day, was too much because my eyes actually couldn't open anymore and my body asked me to sleep"

When i arrived at TPS, honestly i felt lil' bit confused about what i had to do..
i never cared about the socialization of " contreng system", what type of vote which can be counted as a valid vote or not, i don't really know for exactly..
And my confusing became bigger when I realized that I don’t know which candidates that I have to be chosen..

Then, I gave my card to the TPS officer and waited for my turn… "MARTHA SAFITRI!" so, I took 4 voting papers from the officer and went to the voting cubicle..


I shake my head for a while ..ck,ck,ck,ck…. And grumbled (but loudly) " GEDE AMAT YAKK KERTASNYA…!! Boros banget deh, pake duit rakyat nih belinya..!"

Person who was in next cubicle in my right side, said " berisik lo hep, udah pilih aja deh" (he is my friend)

Person who was in next cubicle in my left side, side "makanya dek, kamu generasi penerus ntar dibikin yang lebih baek system pemilunya ya..!" (he is my 50years old neighbor)

After opened the voting papers I started to choose "my hero".. hahahahaha!!! There was no one who really my hero or at least I can give my trust to be "my hero" in legislative house..

On DPD list: there is no one that I known.. so, I just did " cap cip cup belalang kuncup…" voilaa!!!! The pen pointed on 1 candidate's photo, so I chose him..

On DPRD province list :everyday I go to campus by "my lovely ojek" I am always attracted (disturbed) by 1 big banner for the campaign attribute of 1 candidate. Because I think it would be "mubazir" if I didn’t chose him whereas he already spent lots of money for that banner so I chose him..(what a kind person I am)

On DPR list: at least, I know 1 candidates.. likely, he is smart, but I don’t really know he is honest and can do people's trust on him or not..BUT, because he is my friend's father and he campaigned attractively around depok…so, I CHOSE HIM..

On DPRD depok list: hahahahha.. there was my lecturer on the "white party" list…because he gave me A on poverty economy class, so I chose him….

The last confusing of me was, it was so hard to refold the voting papers…

Yup, maybe i am a stupid voter with full of asymetric information in Indonesian general election of 2009. surely, there must be lots of people who face same problem with me..

Am I stupid so I didn’t know for exactly the procedures of voting?
Maybe, it was not because I am stupid but more about I don’t care….

Am I stupid so that I did some stupid ritual and used stupid reasons to choose the candidates??? maybe but not really I think…
I am not well informed about what they want to do to us, what programs that they bring and how deserve they are to be our representatives in legislative house…
They more concerned about their stupid pose and stupid tagline on their banner of campaign… they chose to set up "dangdutan" to attract people rather than informed people about their ability, capacity, and programs to community..

I felt little bit guilty after I gave my votes yesterday… because I didn't use my rational reason and my "educated brain" to chose them… but, I promise my self to try harder to find out about my next president candidates…(though I still confused, actually its my obligation or theirs to informed their potential voters)

Friday, November 14, 2008

seberapa pedulikah saya?

Saya dan teman-teman adalah mahasiswa Ilmu Ekonomi yang setidaknya setelah lulus kuliah bakalan mendapat predikat sebagai ekonom. Tapi sebenarnya seberapa pedulikah kami sebagai calon ekonom terhadap kondisi ekonomi bangsa atau kondisi sosial di masyarakat?

Saya akui, saya sendiri secara pribadi masih sangat egois, hingga semester 5 ini yang saya pikirkan cuma bagaimana saya bisa mengerjakan soal2 UTS atau UAS, lulus mata kuliah dengan nilai A, bagaimana bisa terus mengaktualisasikan diri di berbagai acara kampus dan organisasi, ngajar jalan terus, duit jajan gak pernah kurang, dan tetep bisa kongkow2 sama temen2, semuanya cuma terfokus sama diri saya sendiri tidak menginternalisasikan faktor2 luar yang seharusnya juga saya pikirkan.

Sampai hari ini sih bentuk pembelaan saya adalah saya masih mahasiswa, blum tau apa-apa, gak bisa ngasih apa-apa, dan belum tiba saatnya. Tapi kalo dipikir2 hambatan untuk melakukan sesuatu yang lebih berguna buat dunia yang lebih luas bukan terletak pada terbatasnya kemampuan saya tapi lebih kepada kurangnya kepekaan dan keinginan saya untuk bertindak. Bentuk peduli saya hanya sampai batas berpikir belum berani bertindak, karena sejumlah ke-engganan. Berpikir pun gak banyak yang saya hasilkan, cukup malu juga kalau lihat temen2 yang bukan mahasiswa ekonomi tapi berani berpendapat atau sekedar concern sama masalah ekonomi yang ada dan gak jarang pikiran mereka kritis dan berbobot, lahh saya? blog aja isinya sampah semua.
Sedang berpikir untuk berubah, tapi saya tau gak gampang, perlahan-lahan aja, mudh-mudahan saya gak terus-terusan stuck di keterpurukan mental macam sekarang ini.

Sunday, July 20, 2008

innalillahi wa innailaihi roji'un

gw udah ngucapin kata ini 3 kali dalam 1 hari ,pasalnya dalam 1 hari ini gw dapat 3 kabar kematian.
pertama, subuh2 Rusli dari Ternate sms ngabarin kalo ayahnya Mukhsin Amir anak AJARi asal Ternate meninggal dunia, gw emang gak inget yang mana si Mukhsin tapi bagaiamanapun dya temen gw juga jadi gw turut berduka cita, berhubung kalo ngelayat jauh ke ternate gw cuma bisa nitip doa dan salam aja lewat Rusli.

KEdua, jam 3 sore pas gw lagi mulai online si Hikmah telepon, ternyata dya lagi-lagi ngabarin kalo ibunya Ima anak AJARI asal bogor meninggal dunia. GW agak ngerasa bersalah soal yang ini, karena sebenernya gw sempet udah mau jalan sama hikmah dan fahmi buat ngejenguk pas mamanya ima dirawat di RS Halim, tapi berhubung imanya lagi di bogor maka urunglah kita ngejenguk. Dan begitu gw dapat kabar dari hikmah gw udah mau jalan dan mau ngajakin si udin barengan, tapi berhubung rumahnya jauh dan gw gak tau jalan, maka gw kembali urung ngelayat. gw janji nanti telepon atau sms ima aja buat ngasih doa.

gak lama dari beritanya mama ima, sekitar jam setengah 6 gw dapet sms dari meiyana. ibunda Bowo temen sma gw, meninggal dunia. mama bowo setau gw emang sakit tapi udah rada baikan kaykanya, yahh namanya umur siapa yang tau kan. karena rumah bowo di depok maka yang kali ini gw mesti ngelayat, tapi gw gak tau rumahnya jadi lagi nunggu koordinasi sama anak2 sma aja buat barengan kesananya.

sebenernya gw mau dateng ke semua tempat temen gw yang lagi berduka itu, tapi karena banyak keterbatasan maaf sekali. mama pernah bilang kalo ada orang yang kita kenal meninggal diusahain harus dateng takziah, agama juga nyuruh begitu.
Aduhh kalo denger berita kayak gini gw jadi deg-deg-an. Takut kalo gw yang harus ngabarin hal ini ke orang2 karena ada anggota keluarga atau ortu gw yang meninggal, jujur gw belom siap keilangan orang tua gw. Padahal gw seharusnya pasrah sama setiap takdir Allah, tapi namanya anak kalo ditinggal orangtua meskipun gw suka berantem sama mama gw, pastilah gw sedih.

ya udah, gw mau siap-siap dulu mau ngelayat nyokapnya bowo.

Tuesday, July 08, 2008

IF I DIE TONIGHT

Kemaren gw minjem DVD sama uchal selepas ujian AB yang mematikan, Bucket List. Ya, film ini cerita tentang 2orang yang divonis akan segera meninggal setidaknya 6 bulan lagi karena masing-masing mengidap kanker, uniknya sebelum meninggal mereka membuat daftar tentang beberapa hal yang ingin dan akan mereka berdua lakukan sebelum meninggal. Daftar itu dinamai The Bucket List, dan berisi daftar hal-hal mulai dari yang filosofis sampai hal-hal konyol yang gila, untungnya salah satu dari orang yang akan meninggal itu punya uang banyak sehingga beberapa daftar kegiatan mereka bisa terwujud dengan mudah.

Setelah nonton film ini gw juga jadi teringat sama temen SMP gw bernama Trias, yang beberapa minggu lalu tepatnya 23 Juni 2008 Meninggal dunia di usia 20 tahun karena tipus. Bayangkan trias yang juga seumuran gw, lagi merekah-merekahnya sebagai perawan, lagi semangat-semangatnya kuliah, maen sama temen-temen, pacaran mungkin, lagi nyusun rencana masa depan tentang kuliah atau pernikahan, ternyata gak bisa menghindar dari maut. Dan gw pun merefleksikan kedua hal tersebut pada diri gw.

Seandainya gw kena suatu penyakit parah dan diprediksi sama dokter kalo paling gak umur gw tuh tinggal 6 bulan lagi terhitung sejak hari ini, apa yang bakalan gw lakuin??? Maka gw pun membuat “bucket list” gw sendiri, berhubung gw bukan orang kaya dan gak punya banyak duit seperti difilm itu maka gw gak bisa ngelakuin banyak hal gila dan mahal-mahal.

These are my bucket list :

  1. Gw akan nangis dulu 1 hari penuh sampe capek, sendirian.

  2. Gw akan solat taubat dan pakai jilbab, sejak hari itu gw janji gak akan tinggal solat dan baca qur’an. Gw mau mati dengan khusnul khotimah

  3. Minta maap sama orang tua, adek-adek gw, dan semua temen gw, terutama mereka-mereka yang gw yakini pernah gw sakiti perasaannya

  4. Tanya ke semua orang yang gw kenal soal utang gw, apa gw pernah minjem duit yang lupa dibalikin atau utang janji atau utang mau ngasih barang

  5. Told him that I've ever loved him

  6. Foto2 yang banyak, sambil jalan-jalan atau foto box juga, biar pas gw mati banyak kenangan gw, hehehehe

  7. Bilang sama mama dan papa gak usah buang uang banyak-banyak buat cari pengobatan buat gw, mending duitnya dipake buat adek gw sekolah. Lagian yang namanya ajal pasti dateng juga

  8. Gw mau nyoba bungee jumping sama rafting

  9. Selama 6 bulan yang tersisa gw akan selalu dateng ke kampus, kuliah tanpa ngobrol dan keluar kelas, bikin semua tugas tepat waktu, nyelesaiin semua tanggung jawab gw di KANOPI dan gak pulang kerumah cepet-cepet supaya gw bisa lama ngobrol dan ketawa-ketawa sama temen-temen gw

  10. Ngumpulin temen-temen lama gw : Meysha, genk SMP gw, anak LG: nisa,oki,eliana,tyas,bang upphy,rischa; nana, elsha,chiponk, buat jalan-jalan, makan, pokoknya seneng-seneng terus

  11. Ngasih password blog sama FS plus email gw ke icha atau sari biar mereka yang urus setelah gw gak ada

  12. Survey kuburan gw, penggennya di Jakarta aja biar gampang di jenguk kalo keluarga atau temen-temen gw mau ziarah mungkin tanah kusir, tapi di Lampung juga seru karena bakalan 1 kompleks sama kuburan andung dan sidi (my grandparents)

  13. Makan duren sampe mabok

  14. Makan jjajangmyun dan makanan asli korea lainnya sama si Icha

  15. Selama 6 bulan tersisa gw mau wisata kuliner mulai dari makanan favorit gw sampe makanan yang belum pernah gw coba.

  16. Setidaknya berkenalan dengan minimal 1 orang baru setiap harinya biar nambahin orang yang kenal gw dan nelpon atau ngehubungin semua temen lama biar mereka inget gw lagi, makin banyak orang yang kenal atau inget gw lagi maka makin banyak yang bakal dateng takziah ke rumah gw pas gw meninggal

  17. Mencari Pak Mustafa, nanya kenapa paper industry gw dapet 70 dan UAS gw 80, tolong jelaskan letak kesalahannya, gw gak mau mati penasaran

  18. Mengakui semua kebohongan yang gw buat pada setiap orang yang pernah gw bohongin dan minta map

  19. Ikutan zikir akbar sama ustadz Arifin Ilham yang di laksanain di kompleks perumahan gw setiap bulan, udah bertahun-tahun gw tinggal dikompleks ini dan udah bertahun-tahun juga acara Dzikir Akbar dijalanin tapi gak pernah sekalipun hati ge terpanggil buat ikutan

  20. Nonton sebanyak-banyaknya film DVD atau di biokop ampe gw mati

  21. Buat suatu paper ilmiah ekonomi yang bagus dan serius, gw riset, cari data, baca banyak literature dan text book buat dimohonkan dimasukan ke JEPI (Jurnal Ekonomi dan Pembangun Indonesia), setidaknya sebagai mantan calon ekonom nantinya gw punya peninggalan yang ilmiah dan berguna buat banyak orang

  22. Gw gak pernah sekalipun bilang sama orang tua gw dan kedua adek gw kalo gw sayang dan cinta sama mereka karena gw gengsi dan gak suka sama hal-hal yang rada romantic sebenernya, tapi gw akan kalahkan gengsi gw dan bilang sama mereka kalo gw sayang dan cinta sama mereka, terutama mama karena selama ini kerjaan gw Cuma berantem mulu sama dya.

  23. Ke DUFAN sendirian

  24. Karaoke sama the piggies seharian.

  25. Nyumbangin semua barang yang bisa gw sumbangin ke panti asuhan atau mesjid, lumayan buat bekal gw jalan-jalan ke akhirat.

Gw juga sempet nanya sama temen-temen SMP gw dan beberapa anak Piggies kalo seandainya mereka tiba-tiba dapet telpon dan dikabarain “Happy meninggal” apa reaksi mereka. Beberapa masih ngasih jawaban lelucon seperti: “akhirnya..”, “oh happy ya?ya udah” semoga itu gak bener, karena kalo bener berarti hidup gw gak berarti dong selama ini buat mereka, sedih banget.. dan yang pasti gw punya wasita buat eliana dan tyas kalau gw meninggal dan mereka belum, mereka harus melakukan sesuatu buat gw.

Enak emang kalo bisa tau kapan bakalan dijemput maut, banyak persiapan. Sayangnya manusia gak pernah tau kapan ajalnya akan dateng sehingga bekal buat jalan-jalan ke akherat kadang belom siap, masih sibuk sama urusan dunia, mikir kalo taubat nanti aja kalo udah rada tua karena berharap bakalan mati di usia tua, dan masih bikin kesel atau punya utang janji sama orang. Yah begitu juga gw, gw takut mati sekarang karena gw pikir mati pasti menyakitkan, gw juga ngerasa bekal buat jalan ke akherat belum cukup, gw gak mau ke neraka. Agak menyenangkan memang membuat list-list diatas tapi kalo seandainya hal ini terjadi pada gw sebenarnya dan dalam waktu dekat gw mungkin hanya akan menjalankan list nomor 1,2,3 dan 4 dan berharap semuanya cukup untuk menjauhkan gw dari siksa kubur dan siksa api neraka.


Thursday, June 12, 2008

surat buat icha

chaaa...

gw capek deh.
perasaan kayak gini bikin hati gw campur aduk
malu sama orang yang tau, kesel, sedih, bikin si "nobody syndrome" muncul

icha, gw mau keluar dari lingkaran kayak gini...
gak mau lagiiii...
gimana caranya??
kasih tau gw cha!

bener kata lo perasaan kayak gini yang bikin ya gw sendiri
selalu gw pengen ilangin perasaan ini, tapi susah.
gw pikir gw bisa kuat loh nahan perasaan ini ampe bertahun-tahun ke depan, tapi ternyata enggak..
mungkin gw butuh yang lebih nyata.

bukan pertama kalinya gw pengen bersumpah serapah kayak gini cha..
BABI!
bodo amat orang mau anggap gw apa, gak punya inner beauty lah
TAI!
kesel gw sama diri gw sendiri, sama perasaan bodoh gw ini, sama sikap goblok gw ini.
gw sebenernya gak berhak marah sama siapa2 karena ini yang buat salah kan gw sendiri ya cha?
trus gimana caranya gw keluar dari perasaan yang salah ini cha?

i'm quit.

Friday, May 09, 2008

20:00

what is this?

H-8...

waiting for...

my new code...

Wednesday, April 16, 2008

merenung

Hanya terpaku,terdiam, dan mencoba berpikir

Merenungi kemarin, kini, dan esok

Berharap masih dapat perbaiki salah kemarin

Meminta langkah kini lebih berarti

Dan memohon esok lebih baik

Semua meresap dalam renungku

Saat ku coba pikirkan apa arti diriku

Martha safitri

Thursday, February 21, 2008

The Hulk of Me

Salah satu sifat diri gw yang paling gw benci adalah sifat emosional yang gw miliki. Gw mudah tersulut emosi dan akhirnya bisa marah atau bahkan murka banget kalo kondisinya emang bener-bener gak bisa ditolerir. Gw bukan wanita yang adem ayem, lemah lembut, ngomong dengan sok-sok manja, that’s not really me. Gw terbiasa untuk spontan, saat gak suka gw bilang gak suka, kalo gw suka ya bilang suka, gak usah pasang banyak kepalsuan. Terkadang gw suka menyesali kenapa tiba-tiba suka ada makhluk jahat yang muncul dari dalam diri gw saat sesuatu atau seseorang menyulut emosi gw disaat yang gak tepat, makhluk yang mestinya gak ada didalam diri seorang wanita. Makhluk itu emang gak pernah bener-bener keluar dengan ganasnya, karena terkadang gw masih berusaha untuk menjaga image gw setidaknya sebagai wanita beradab.

Entah kenapa belakangan ini makhluk itu suka pengen keluar kalo gw berinteraksi dengan seseorang. Dya bukan orang jahat dari tampak luarnya, tapi didalamnya penuh tipu muslihat dan memuakan, bener-bener FAKE! Orangnya adem ayem, ngomong dengan lemah lembut dan wajah innocent tapi maksudnya menohok hati sekali. Orang kayak gini yang suka bikin gw gak nahan buat nampar atau neriakin kata-kata sakti. Nih orang nguji iman gw banget, karena tampang dya innocent dan selalu nyiptain image kalo dya “orang baik” orang-orang pasti bakal bilang “gila tuh si happy orangnya jahat banget padahal si X kan orangnya lembut banget” kalo tiba-tiba gw nyerang dya karena udah terlalu gak tahan. Gw emang bukan orang baik tapi setidaknya gw gak mau nutupin maksud jahat gw kalo gw emang bener2 mengarah kesana, tapi orang tadi beda dya terlalu implicit dalam menyampaikan maksud jahatnya.

Kembali kepada sifat emosional gw tadi, terkadang gw sangat menyesali ketika gw harus berlaku kasar pada orang lain yang mungkin seharusnya gw gak sekasar itu, tapi setelah gw berintrospeksi diri dan kembali pada kondisi serupa gw pasti kembali pada sifat emosional itu. Entah dari mana sifat emosional ini berasal, kalo gw mengamati silsilah keluarga seperti gw mewarisi gen darah tinggi dan emosional dari mama dan Sidi(kakek dari mama), mereka 2 orang dalam silsilah keluarga gw yang cukup mudah tersulut emosinya. Dan kalo melihat kepada lingkungan bagaimana gw dibentuk mungkin hal itu juga mempengaruhi sifat gw ini. Dari kecil gw diajarkan untuk gak cengeng dan gak pengaduan ke orang tua, misalnya: kalo main dan pulang gw nangis trus ngadu gw dijahatin even sama anak cowok gw bukan dibelain tapi malahdimarahin suruh balik lagi dan ngebales anak yang nakalin gw, kalo dya udah nangis juga baru pulang, kalo nanti bapak atau ibunya marah baru mama sama papa yang hadapin, jadi anak lawan anak, orangtua lawan orangtua. The hulk of me, si makhluk jahat itu gw pengen merantai nya jauh didalam diri gw, pengen jadi wanita yang lebih adem ayem, kurangi sifat emosional dan mencoba